Monolog Fiksi
.
Spasi
.
Jarak itu relatif. Demikian perkataan dalam teori fisika yang selalu terpatri dalam pojok memoriku. Tak pernah ada takaran jelas untuk diksi "jauh" ataupun "dekat". Semua terkait erat dengan sudut pandang dan persepsi manusia, sebagai makhluk Tuhan dengan satu anugerah luar biasa - akal dan memori.
Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah.
Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa.
Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?
Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.
FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.
I miss you Ma, miss you much when I'm lonely,
miss you much when I'm happy,
I hate long distance relationship,
but God gave me some lessons.
I have to do what I should do.
have to let you go, faraway from me.
have to make those LDR-stuff with you,
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.
I miss you more than I can say...
____________________________________________________________
Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku,
selain hatiku dan ombak berderu,
Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu,
akulah lautan kau slalu pulang,
Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..
#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada
-penceritahujan-
Spasi
.
Jarak itu relatif. Demikian perkataan dalam teori fisika yang selalu terpatri dalam pojok memoriku. Tak pernah ada takaran jelas untuk diksi "jauh" ataupun "dekat". Semua terkait erat dengan sudut pandang dan persepsi manusia, sebagai makhluk Tuhan dengan satu anugerah luar biasa - akal dan memori.
Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah.
Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa.
Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?
Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.
FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.
I miss you Ma, miss you much when I'm lonely,
miss you much when I'm happy,
I hate long distance relationship,
but God gave me some lessons.
I have to do what I should do.
have to let you go, faraway from me.
have to make those LDR-stuff with you,
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.
I miss you more than I can say...
____________________________________________________________
Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku,
selain hatiku dan ombak berderu,
Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu,
akulah lautan kau slalu pulang,
Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..
#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada
-penceritahujan-
Tanpa Nama
.
Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.
Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.
Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.
Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.
Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.
Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.
Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.
Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.
Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.
Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.
" Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."
Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil
-penceritahujan-
Tanpa Nama
.
Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.
Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.
Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.
Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.
Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.
Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.
Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.
Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.
Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.
Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.
" Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."
Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil
-penceritahujan-
Buku Memori
.
Bukunya pun sudah berdebu. Berada di tumpukan terbawah brankas pribadi dalam perpustakaan otakmu. Aku pernah menitipkannya padamu, aku ingat persis. Aku memberikannya ketika hujan tiba, dimana tetesan air itu sangat identik denganku. Dan kamu memberikanku pelukan virtual, yang hanya bisa disimbolkan dengan kedipan mata. Aku bisa membaca pertanda tanpa kau sebut dengan bicara, tenang saja.
Buku itu punya banyak cerita. Tentang aku yang bertindak bodoh, dan kamu yang menanggapi kebodohanku dengan aneh.
Tentang aku yang percaya bahwa aku adalah makhluk Planet Hujan. Bahwa aku turun ke muka Bumi sebagai utusan rindu dari Langit, yang tak bisa bersama karena kasta.
Tentang kamu yang mempercayai perkataanku itu, mendatangi rumahku dengan kostum lengkap ala musim hujan – mantel dan payung kuning – di kala matahari sedang terik-teriknya. Kamu tahu kalau bertemu denganku, hujan akan mampir dalam duniamu. Dasar bodoh.
Tentang aku yang bertemu denganmu di kala hujan tiba. Dan kamu yang merekam kejadian itu jelas dalam ingatanmu.
Tentang aku yang senang melihat angkasa. Tentang kamu yang menyukai rangkaian konstelasi di atas sana. Tentang tribun yang menjadi saksi bincang hangat kita tentang alam semesta.
Kemudian, aku dan kamu, perlahan beranjak menjadi diksi “kita” tanpa banyak tanya.
Tentang aku yang bergumul dengan semua konflik batinku. Tentang kamu yang selalu mendengarkan semua benang kusut yang menjelimet dalam sudut hatiku.
Tentang aku yang selalu menangis. Tentang kamu yang selalu menenangkan gerombolan air mataku itu dengan senyuman manis
Tentang waktu yang tak pernah menghapus kamu. Tentang masa yang tak bisa menyapu kita.
Tentang sebuah rasa, yang tak pernah bisa dilafalkan dengan kata.
Dan kamu bisa menemukan nama kita – aku dan kamu – tergurat rapi di atas sampulnya.
Apakabar buku itu, hey kamu? Masihkah berdebu? Masihkah berada di tumpukan terbawah lemarimu?
I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much to deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard
I will remember you, will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories
#nowplaying Sarah McLachlan – I Will Remember You
Well, memories is the best book ever in human's history.
-penceritahujan-
Cincin Uranus
.
Rabu, 24 Oktober 2012
Monolog Fiksi
Spasi
Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah.
Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa.
Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?
Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.
FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.
I miss you Ma, miss you much when I'm lonely,
miss you much when I'm happy,
I hate long distance relationship,
but God gave me some lessons.
I have to do what I should do.
have to let you go, faraway from me.
have to make those LDR-stuff with you,
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.
I miss you more than I can say...
____________________________________________________________
Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku,
selain hatiku dan ombak berderu,
Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu,
akulah lautan kau slalu pulang,
Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..
#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada
-penceritahujan-
Spasi
Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah.
Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa.
Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?
Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.
FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.
I miss you Ma, miss you much when I'm lonely,
miss you much when I'm happy,
I hate long distance relationship,
but God gave me some lessons.
I have to do what I should do.
have to let you go, faraway from me.
have to make those LDR-stuff with you,
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.
I miss you more than I can say...
____________________________________________________________
Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku,
selain hatiku dan ombak berderu,
Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu,
akulah lautan kau slalu pulang,
Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..
#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada
-penceritahujan-
Tanpa Nama
Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.
Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.
Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.
Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.
Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.
Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.
Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.
Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.
Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.
Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.
" Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."
Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil
-penceritahujan-
Tanpa Nama
Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.
Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.
Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.
Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.
Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.
Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.
Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.
Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.
Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.
Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.
" Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."
Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil
-penceritahujan-
Buku Memori
Bukunya pun sudah berdebu. Berada di tumpukan terbawah brankas pribadi dalam perpustakaan otakmu. Aku pernah menitipkannya padamu, aku ingat persis. Aku memberikannya ketika hujan tiba, dimana tetesan air itu sangat identik denganku. Dan kamu memberikanku pelukan virtual, yang hanya bisa disimbolkan dengan kedipan mata. Aku bisa membaca pertanda tanpa kau sebut dengan bicara, tenang saja.
Buku itu punya banyak cerita. Tentang aku yang bertindak bodoh, dan kamu yang menanggapi kebodohanku dengan aneh.
Tentang aku yang percaya bahwa aku adalah makhluk Planet Hujan. Bahwa aku turun ke muka Bumi sebagai utusan rindu dari Langit, yang tak bisa bersama karena kasta.
Tentang kamu yang mempercayai perkataanku itu, mendatangi rumahku dengan kostum lengkap ala musim hujan – mantel dan payung kuning – di kala matahari sedang terik-teriknya. Kamu tahu kalau bertemu denganku, hujan akan mampir dalam duniamu. Dasar bodoh.
Tentang aku yang bertemu denganmu di kala hujan tiba. Dan kamu yang merekam kejadian itu jelas dalam ingatanmu.
Tentang aku yang senang melihat angkasa. Tentang kamu yang menyukai rangkaian konstelasi di atas sana. Tentang tribun yang menjadi saksi bincang hangat kita tentang alam semesta.
Kemudian, aku dan kamu, perlahan beranjak menjadi diksi “kita” tanpa banyak tanya.
Tentang aku yang bergumul dengan semua konflik batinku. Tentang kamu yang selalu mendengarkan semua benang kusut yang menjelimet dalam sudut hatiku.
Tentang aku yang selalu menangis. Tentang kamu yang selalu menenangkan gerombolan air mataku itu dengan senyuman manis
Tentang waktu yang tak pernah menghapus kamu. Tentang masa yang tak bisa menyapu kita.
Tentang sebuah rasa, yang tak pernah bisa dilafalkan dengan kata.
Dan kamu bisa menemukan nama kita – aku dan kamu – tergurat rapi di atas sampulnya.
Apakabar buku itu, hey kamu? Masihkah berdebu? Masihkah berada di tumpukan terbawah lemarimu?
I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much to deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard
I will remember you, will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories
#nowplaying Sarah McLachlan – I Will Remember You
Well, memories is the best book ever in human's history.
-penceritahujan-
