Monolog Fiksi


.


Apa yang kamu pikirkan saat pertama bermain-main dengan makhluk api? Apa yang kamu harapkan dengan membenamkan dirimu - kembali - pada sebuah rasa yang tak mungkin? Apa yang bisa kamu impikan dari sebuah kata berpura-pura?

Kamu sakit? Wow, itu hanya pembenaran. Faktanya cuma satu. Kamu-itu-salah.

Kamu kabur. Lari. Mencari jalan keluar dari sebuah jalinan labirin. Berusaha menghindari efek domino. Dan - lagi - kamu berpijak pada sosok yang tetap berstatus "tidak mungkin". Dia adalah semacam bintang dari galaksi lain. Seorang putra mahkota hutan belantara, milik suku pedalaman lain. Batasan moral memagari. Satu sama lain. Tanda "FORBIDDEN" tampak jelas disana. 

Lagi. Kalian adalah semacam fiksi. Bukan sesuatu yang diikrarkan akan menjadi nyata. Semanis apapun itu. Seindah apapun itu. 

Apa yang kamu cari? Yang kamu rasa tidak kamu miliki selama ini? Bersama sebuah tajuk kepastian. Perasaan? Kesungguhan?

Drama? Cerita? Kesenduan? Fiksi? Bahan inspirasi? Kekosongan? 

Kadang, saya merasa kamu sinting. Ada sebuah kerumitan bertahap yang mengganggu otak kecilmu. Caramu memandang sesuatu. Pola pikirmu, menghadapi sebuah bola biru bernama dunia. 

"Kenapa harus memakai jalan pintas, kalau lah memang ada jalan memutar? Dan suatu hari, akan pulang juga. Homesick, setelah melakukan sejumlah petualangan di luar sana?"

Kamu nggak waras. Memang. Absolutely weirdo. Freaky absurd. Tak heran, saya-sangat-membenci-kamu. 

Tapi, saya berat mengakui. Kamu, adalah serpihan diri saya. Butiran darah sama yang menghidupi jantung saya. Denyut yang sama menghiasi nadi saya. Nama yang sama ketika dilahirkan. Ya. Saya dan kamu, satu badan, satu kepala, satu hati dan satu jiwa. 

-penceritahujan-

Spasi


.

Jarak itu relatif. Demikian perkataan dalam teori fisika yang selalu terpatri dalam pojok memoriku. Tak pernah ada takaran jelas untuk diksi "jauh" ataupun "dekat". Semua terkait erat dengan sudut pandang dan persepsi manusia, sebagai makhluk Tuhan dengan satu anugerah luar biasa - akal dan memori.

Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah. 

Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa. 

Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?

Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.

FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.

I miss you Ma, miss you much when I'm lonely, 
miss you much when I'm happy, 
I hate long distance relationship, 
but God gave me some lessons. 
I have to do what I should do. 
have to let you go, faraway from me. 
have to make those LDR-stuff with you, 
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.

I miss you more than I can say...
____________________________________________________________

Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku, 
selain hatiku dan ombak berderu,

Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu, 
akulah lautan kau slalu pulang,

Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..

#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada


-penceritahujan-

Spasi


.

Jarak itu relatif. Demikian perkataan dalam teori fisika yang selalu terpatri dalam pojok memoriku. Tak pernah ada takaran jelas untuk diksi "jauh" ataupun "dekat". Semua terkait erat dengan sudut pandang dan persepsi manusia, sebagai makhluk Tuhan dengan satu anugerah luar biasa - akal dan memori.

Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah. 

Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa. 

Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?

Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.

FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.

I miss you Ma, miss you much when I'm lonely, 
miss you much when I'm happy, 
I hate long distance relationship, 
but God gave me some lessons. 
I have to do what I should do. 
have to let you go, faraway from me. 
have to make those LDR-stuff with you, 
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.

I miss you more than I can say...
____________________________________________________________

Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku, 
selain hatiku dan ombak berderu,

Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu, 
akulah lautan kau slalu pulang,

Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..

#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada


-penceritahujan-

Tanpa Nama


.


Aku adalah seonggok batang putih dengan warna membosankan. Tak seperti kelap-kelip warna perangkat elektronik masa kini. Wajahku pun buruk rupa. Mereka cantik, sedangkan aku menganut asas konservatif. Usang. Kuno.

Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.

Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.

Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.

Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.

Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.

Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.

Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.

Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.

Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.

Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.  

"
 Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."

Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti


Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia


#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil

-penceritahujan-

Tanpa Nama


.


Aku adalah seonggok batang putih dengan warna membosankan. Tak seperti kelap-kelip warna perangkat elektronik masa kini. Wajahku pun buruk rupa. Mereka cantik, sedangkan aku menganut asas konservatif. Usang. Kuno.

Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.

Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.

Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.

Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.

Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.

Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.

Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.

Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.

Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.

Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.  

"
 Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."

Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti


Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia


#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil

-penceritahujan-

Buku Memori


.

Aku bukan penulis kelas kakap, begitupun kamu. Cuma penyair kelas kutu. Hanya dua onggok makhluk berakal yang sok-sokan mengarang buku, bertahun-tahun yang lalu.

Bukunya pun sudah berdebu. Berada di tumpukan terbawah brankas pribadi dalam perpustakaan otakmu. Aku pernah menitipkannya padamu, aku ingat persis. Aku memberikannya ketika hujan tiba, dimana tetesan air itu sangat identik denganku. Dan kamu memberikanku pelukan virtual, yang hanya bisa disimbolkan dengan kedipan mata. Aku bisa membaca pertanda tanpa kau sebut dengan bicara, tenang saja.

Buku itu punya banyak cerita. Tentang aku yang bertindak bodoh, dan kamu yang menanggapi kebodohanku dengan aneh.

Tentang aku yang percaya bahwa aku adalah makhluk Planet Hujan. Bahwa aku turun ke muka Bumi sebagai utusan rindu dari Langit, yang tak bisa bersama karena kasta.

Tentang kamu yang mempercayai perkataanku itu, mendatangi rumahku dengan kostum lengkap ala musim hujan – mantel dan payung kuning – di kala matahari sedang terik-teriknya. Kamu tahu kalau bertemu denganku, hujan akan mampir dalam duniamu. Dasar bodoh.

Tentang aku yang bertemu denganmu di kala hujan tiba. Dan kamu yang merekam kejadian itu jelas dalam ingatanmu.

Tentang aku yang senang melihat angkasa. Tentang kamu yang menyukai rangkaian konstelasi di atas sana. Tentang tribun yang menjadi saksi bincang hangat kita tentang alam semesta.

Kemudian, aku dan kamu, perlahan beranjak menjadi diksi “kita” tanpa banyak tanya.

Tentang aku yang bergumul dengan semua konflik batinku. Tentang kamu yang selalu mendengarkan semua benang kusut yang menjelimet dalam sudut hatiku.

Tentang aku yang selalu menangis. Tentang kamu yang selalu menenangkan gerombolan air mataku itu dengan senyuman manis

Tentang waktu yang tak pernah menghapus kamu. Tentang masa yang tak bisa menyapu kita.

Tentang sebuah rasa, yang tak pernah bisa dilafalkan dengan kata.

Dan kamu bisa menemukan nama kita – aku dan kamu – tergurat rapi di atas sampulnya. 

Apakabar buku itu, hey kamu? Masihkah berdebu? Masihkah berada di tumpukan terbawah lemarimu?

I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much to deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard

I will remember you, will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories


#nowplaying Sarah McLachlan – I Will Remember You


Well, memories is the best book ever in human's history.


-penceritahujan-

Cincin Uranus


.


Cobalah bertanya pada teman anda, planet apakah yang memiliki cincin? Mungkin jawaban pertama yang di dapat adalah Saturnus. Tak salah memang namun Saturnus bukan satu-satunya planet yang punya cincin. Ayahnya Saturnus yang berada tak jauh darinya juga memiliki sebuah cincin.
Foto Uranus yang diambil bulan Mei 2007. Kredit :W. M. Keck Observatory (Marcos van Dam)
Loh ayahnya? Siapa? Siapa lagi kalau bukan Uranus. Uranus atau Ouranos dalam bahasa Yunani diartikan sebagai dewa langit dan dipersonifikasikan sebagai anak dan suami dari Gaia, dewi Bumi. Hujan yang ia turunkan memberi kesuburan dan kehidupan makhluk-makhluk di Bumi. Uranus juga merupakan ayah dari Kronos (Saturnus) dan kakek dari Zeus (Jupiter). Uranus, planet ke-7 yang bertahta di Tata Surya juga memiliki cincin tipis dan gelap yang melingkar indah di tubuhnya, sama seperti anak dan cucunya.
Dalam kegelapan malam, Uranus memang terlihat dengan mata bugil seperti halnya kelima planet klasik lainnya. memang dulu  tak pernah terpikir oleh para pengamat langit jaman itu kalau Uranus itu sebuah planet karena cahayanya yang redup dan orbitnya yang lambat.
Uranus sebagai planet dikenal pada saat William Herschel menemukannya di tahun 1791. Namun saat itu, ia belum tahu kalau planet cantik ini memiliki cincin. Yang unik dari Uranus adalah pergerakannya. Kemiringan sumbu rotasi Uranus mencapai 97,7 derajat membuatnya bergerak berbeda dari planet-planet pada umumnya. Akibatnya, selama 84 tahun periode orbitnya satu sisi Uranus akan berada pada sisi terang selama 42 tahun dan kegelapan di sisi lainnya selama 42 tahun. Dengan demikian misteri wajah lain Uranus baru akan terkuak setelah 42 tahun.
Tahun 1789, William Herscel mengklaim bahwa ia melihat ada cincin di Uranus, namun klaim tersebut tak pernah jadi sebuah penemuan karena selama 2 abad berikut tak pernah terlihat keberadaan cincin di planet tersebut. Baru pada bulan Maret 1977, okultasi bintang SAO 158687 mengungkap keberadaan cincin tipis dan buram di Uranus. Pada tahun 1986, saat Voyager 2 melalkukan pertemuan dengan Uranus, ia berhasil mengambil foto-foto cincin tersebut dari jarak yang dekat. Setidaknya manusia belum mampu untuk berada di sana dan mengambil fotonya.
Sebagian besar materi di sistem cincin Uranus barada dalam 9 cincin tipis yang terletak pada jarak 41000 – 52000 km dari pusat planet. Sebagian besar dari cincin Uranus memiliki lebar 1 – 10 km, sementara cincin epsilon yang ada di bagian luar Uranus adalah yang paling lebar dan paling eksentrik. Cincin epsilon tersebut berada pada jarak 20 km – 96 km.
Partikel penyusun cincin Uranus yang terlihat dari Bumi memiliki ukuran yang hampir sama dengan cincin utama Saturnus yakni ~1cm – 10 m. Namun di bagian cincin epsilon, susunannya terdiri dari balok-balok es yang berukuran beberapa kaki. Cincin epsilon juga ditemukan memiliki warna abu-abu, dengan satelit Cordelia dan Ophelia bertindak sebagai satelit penggembala bagi cincin tersebut. Selain itu di sepanjang 9 cincin Uranus, juga terdapat partikel-partikel debu halus yang terdistribusi renggang mengisi cincin tersebut.
Partikel yang menyusun cincin Uranus memiliki warna yang sangat gelap dan tampak segelap asteroid dan meteorit carbonaceous chondrite. Diperkirakan partikel-partikel tersebut terdiri dari es yang teradiasi gelap, yang merupakan campuran dari hidrokarbon kompleks yang melekat pada es saat terbentuk.
Penampakan Uranus dari Bumi pada tahun 2003, 2005 dan 2007. Kredit : NASA
Bulan Desember 2005, pengamatan landas bumi dari Keck Observatory dan pengamatan landas angkasa Hubble Space Telescpe berhasil mengungkap keberadaan cincin terluar di Uranus yang jaraknya 2 kali jarak cincin epsilon. Penemuan tersebut bisa terjadi karena pada saat itu, cincin Uranus tampak dekat dengan Bumi dan pada tahun 2007 lalu cincin tersebut tampak tepiannya dari Bumi. Kondisi ini memberi kesempatan bagi para pengamat di Bumi untuk melihat cincin yang redup. Dua cincin yang ditemukan oleh Hubble tersebut menambah jumlah cincin di Uranus menjadi 13.
Penemuan cincin Uranus yang baru tahun 2005. Kredit : Keck Observatory
Hal menarik lainnya dari cincin terluar Uranus ini adalah warnanya. Dari kedua cincin baru itu, cincin terluar yang berada pada jarak 97700 km dari pusat planet itu berwarna biru sementara cincin yang di bagian dalam yang berada pada jarak 67300 km berwarna merah. Dengan demikian diperkirakan cincin yang terluar itu terdiri dari partikel-parikel yang sangat kecil yang berasal dari partikel debu dan air es yang terlontar keluar dari Mab, satelit Uranus. Mab, selain berbagi partikel untuk menyusun cincin terluar Uranus, ia juga berbagi orbit dengan cincin tersebut.
Di masa depan, saat Uranus kembali bertukar wajah setelah 42 tahun berlalu, atau pada saat kita mampu mengirimkan wahana ke Uranus, bisa dipastikan akan ada lebih banyak misteri yang bisa diungkapkan dari planet tersebut. Atau bahkan dari sisi gelap Tata Surya yang masih belum tertangkap oleh mata teleskop kita saat ini.

Rabu, 24 Oktober 2012

Monolog Fiksi

Diposting oleh cathy khaterina di 19.00 0 komentar

Apa yang kamu pikirkan saat pertama bermain-main dengan makhluk api? Apa yang kamu harapkan dengan membenamkan dirimu - kembali - pada sebuah rasa yang tak mungkin? Apa yang bisa kamu impikan dari sebuah kata berpura-pura?

Kamu sakit? Wow, itu hanya pembenaran. Faktanya cuma satu. Kamu-itu-salah.

Kamu kabur. Lari. Mencari jalan keluar dari sebuah jalinan labirin. Berusaha menghindari efek domino. Dan - lagi - kamu berpijak pada sosok yang tetap berstatus "tidak mungkin". Dia adalah semacam bintang dari galaksi lain. Seorang putra mahkota hutan belantara, milik suku pedalaman lain. Batasan moral memagari. Satu sama lain. Tanda "FORBIDDEN" tampak jelas disana. 

Lagi. Kalian adalah semacam fiksi. Bukan sesuatu yang diikrarkan akan menjadi nyata. Semanis apapun itu. Seindah apapun itu. 

Apa yang kamu cari? Yang kamu rasa tidak kamu miliki selama ini? Bersama sebuah tajuk kepastian. Perasaan? Kesungguhan?

Drama? Cerita? Kesenduan? Fiksi? Bahan inspirasi? Kekosongan? 

Kadang, saya merasa kamu sinting. Ada sebuah kerumitan bertahap yang mengganggu otak kecilmu. Caramu memandang sesuatu. Pola pikirmu, menghadapi sebuah bola biru bernama dunia. 

"Kenapa harus memakai jalan pintas, kalau lah memang ada jalan memutar? Dan suatu hari, akan pulang juga. Homesick, setelah melakukan sejumlah petualangan di luar sana?"

Kamu nggak waras. Memang. Absolutely weirdo. Freaky absurd. Tak heran, saya-sangat-membenci-kamu. 

Tapi, saya berat mengakui. Kamu, adalah serpihan diri saya. Butiran darah sama yang menghidupi jantung saya. Denyut yang sama menghiasi nadi saya. Nama yang sama ketika dilahirkan. Ya. Saya dan kamu, satu badan, satu kepala, satu hati dan satu jiwa. 

-penceritahujan-

Spasi

Diposting oleh cathy khaterina di 18.59 0 komentar
Jarak itu relatif. Demikian perkataan dalam teori fisika yang selalu terpatri dalam pojok memoriku. Tak pernah ada takaran jelas untuk diksi "jauh" ataupun "dekat". Semua terkait erat dengan sudut pandang dan persepsi manusia, sebagai makhluk Tuhan dengan satu anugerah luar biasa - akal dan memori.

Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah. 

Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa. 

Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?

Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.

FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.

I miss you Ma, miss you much when I'm lonely, 
miss you much when I'm happy, 
I hate long distance relationship, 
but God gave me some lessons. 
I have to do what I should do. 
have to let you go, faraway from me. 
have to make those LDR-stuff with you, 
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.

I miss you more than I can say...
____________________________________________________________

Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku, 
selain hatiku dan ombak berderu,

Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu, 
akulah lautan kau slalu pulang,

Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..

#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada


-penceritahujan-

Spasi

Diposting oleh cathy khaterina di 18.56 0 komentar
Jarak itu relatif. Demikian perkataan dalam teori fisika yang selalu terpatri dalam pojok memoriku. Tak pernah ada takaran jelas untuk diksi "jauh" ataupun "dekat". Semua terkait erat dengan sudut pandang dan persepsi manusia, sebagai makhluk Tuhan dengan satu anugerah luar biasa - akal dan memori.

Satu hal sempat kutangkap. Jarak seperti sebuah spasi pada keyboard perangkat elektronik terkini. Spasi yang memberi ruang, spasi yang memberi sekelebat kekosongan, spasi yang memberi pemisah. 

Lantas, istilah long distance relationship mengapung di permukaan. Membuat jarak menjadi sebuah dosa, spasi menjadi momok yang ditakuti. Meskipun sebenarnya teori relativitas masih berperan disana. Jarak seperti apa yang membuat sesak, spasi seperti apa yang mencipta hampa. 

Long distance. Sejauh apakah jarak itu? Sejauh Kebun Jeruk - Kalibata? Sejauh Bandung - Jakarta? Ataukah sejauh Indonesia - Kutub Utara?

Sinyal menjadi masalah lumrah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Bukan begitu? Tapi aku iri. Aku iri ketika kebanyakan orang mengeluh karena sang terkasih tak bisa dihubungi karena gangguan sinyal nan menyebalkan. Aku sudah cukup senang, ketika aku bisa berkomunikasi lewat mimpi. Karena di dimensi antara itu saja aku bisa bertemu dengannya.

FYI, spasi kami adalah dimensi, dimensi dalam ruang dan waktu yang berbeda.

I miss you Ma, miss you much when I'm lonely, 
miss you much when I'm happy, 
I hate long distance relationship, 
but God gave me some lessons. 
I have to do what I should do. 
have to let you go, faraway from me. 
have to make those LDR-stuff with you, 
so long, and I don't know when this space start becoming an end..
I hope it'll come soon Ma.

I miss you more than I can say...
____________________________________________________________

Melukiskanmu saat senja, memanggil namamu ke ujung dunia,
Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku, 
selain hatiku dan ombak berderu,

Di pantai ini kau slalu sendiri, tak ada jejakku di sisimu,
Namun saat kutiba, suaraku memanggilmu, 
akulah lautan kau slalu pulang,

Jingga di bahuku, malam di depanku,
dan bulan siaga sinari langkahku,
Kuterus berjalan, kuterus melangkah,
Kuingin kutahu, engkau ada..

#np Dewi Lestari feat. Arina - Aku Ada


-penceritahujan-

Tanpa Nama

Diposting oleh cathy khaterina di 18.54 0 komentar

Aku adalah seonggok batang putih dengan warna membosankan. Tak seperti kelap-kelip warna perangkat elektronik masa kini. Wajahku pun buruk rupa. Mereka cantik, sedangkan aku menganut asas konservatif. Usang. Kuno.

Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.

Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.

Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.

Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.

Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.

Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.

Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.

Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.

Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.

Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.  

"
 Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."

Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti


Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia


#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil

-penceritahujan-

Tanpa Nama

Diposting oleh cathy khaterina di 18.54 0 komentar

Aku adalah seonggok batang putih dengan warna membosankan. Tak seperti kelap-kelip warna perangkat elektronik masa kini. Wajahku pun buruk rupa. Mereka cantik, sedangkan aku menganut asas konservatif. Usang. Kuno.

Aku adalah material substitusi. Hanya hidup di saat-saat tertentu. Bila listrik kehilangan kekuatannya. Bila matahari usai melakukan pekerjaannya. Bila bulan tak cukup memantulkan cahaya bagi permukaan sang bumi. Bila siang terbenam, berganti tirai malam.

Aku adalah sebuah benda tahunan. Hidup di atas kue tart mewah merekah. Tapi, hidup hanya barang beberapa detik saja. Paling lama juga satu menit, hingga hembusan nafas meniup sumbu sang api. Hingga pijaran itu mati lagi, dan lagi. Lalu, kemudian aku menjadi barang sisa kembali. Ditaruh di dalam kantung sampah, menjadi barang tak berguna.

Aku adalah sepenggal makhluk remeh. Receh. Kamu bisa menemukanku dengan harga murah di pasaran. Dan akhirnya, aku hanya hidup di dalam bagian terbawah sebuah lemari. Terdiam, menunggu seseorang memerlukanku seutuhnya. Sepenuhnya.

Aku memang kecil. Cahayaku cuma sepelintir. Siklus hidupku cuma jadi bahan buah bibir, yang akhirnya hilang lagi ditelan cerita-cerita centil.

Pada akhirnya, dalam hitungan waktu, aku akan meleleh, berubah menjadi sosok menjijikan, melebar dan bersatu dengan lantai.

Walau begitu, ketika aku telah mati, aku bisa hidup kembali. Sehancur apapun, segelap apapun, sekelam apapun. Aku tersusun dari substansi yang akan bangkit lagi.

Aku, mudah dilupakan, tapi tak akan mudah melupakan.

Karena aku adalah lilin kecil, yang ada untuk menjadi pengganti, dan hanya hidup untuk memberi.

Tapi, dengan begitu saja, aku sudah bahagia, karena sempat bersinar walau hanya sebentar.

Dan itulah namaku. Lilin. Candle. Candella.  

"
 Mama sama Ayah ngasih nama Candella biar bisa bikin orang lain bahagia, nggak harus dengan skala besar, seperti lilin-lilin kecil, itu saja sudah cukup."

Oh...
Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh...
Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti


Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia


#memutar Chrisye - Lilin-Lilin Kecil

-penceritahujan-

Buku Memori

Diposting oleh cathy khaterina di 18.53 0 komentar
Aku bukan penulis kelas kakap, begitupun kamu. Cuma penyair kelas kutu. Hanya dua onggok makhluk berakal yang sok-sokan mengarang buku, bertahun-tahun yang lalu.

Bukunya pun sudah berdebu. Berada di tumpukan terbawah brankas pribadi dalam perpustakaan otakmu. Aku pernah menitipkannya padamu, aku ingat persis. Aku memberikannya ketika hujan tiba, dimana tetesan air itu sangat identik denganku. Dan kamu memberikanku pelukan virtual, yang hanya bisa disimbolkan dengan kedipan mata. Aku bisa membaca pertanda tanpa kau sebut dengan bicara, tenang saja.

Buku itu punya banyak cerita. Tentang aku yang bertindak bodoh, dan kamu yang menanggapi kebodohanku dengan aneh.

Tentang aku yang percaya bahwa aku adalah makhluk Planet Hujan. Bahwa aku turun ke muka Bumi sebagai utusan rindu dari Langit, yang tak bisa bersama karena kasta.

Tentang kamu yang mempercayai perkataanku itu, mendatangi rumahku dengan kostum lengkap ala musim hujan – mantel dan payung kuning – di kala matahari sedang terik-teriknya. Kamu tahu kalau bertemu denganku, hujan akan mampir dalam duniamu. Dasar bodoh.

Tentang aku yang bertemu denganmu di kala hujan tiba. Dan kamu yang merekam kejadian itu jelas dalam ingatanmu.

Tentang aku yang senang melihat angkasa. Tentang kamu yang menyukai rangkaian konstelasi di atas sana. Tentang tribun yang menjadi saksi bincang hangat kita tentang alam semesta.

Kemudian, aku dan kamu, perlahan beranjak menjadi diksi “kita” tanpa banyak tanya.

Tentang aku yang bergumul dengan semua konflik batinku. Tentang kamu yang selalu mendengarkan semua benang kusut yang menjelimet dalam sudut hatiku.

Tentang aku yang selalu menangis. Tentang kamu yang selalu menenangkan gerombolan air mataku itu dengan senyuman manis

Tentang waktu yang tak pernah menghapus kamu. Tentang masa yang tak bisa menyapu kita.

Tentang sebuah rasa, yang tak pernah bisa dilafalkan dengan kata.

Dan kamu bisa menemukan nama kita – aku dan kamu – tergurat rapi di atas sampulnya. 

Apakabar buku itu, hey kamu? Masihkah berdebu? Masihkah berada di tumpukan terbawah lemarimu?

I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much to deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard

I will remember you, will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories


#nowplaying Sarah McLachlan – I Will Remember You


Well, memories is the best book ever in human's history.


-penceritahujan-

Cincin Uranus

Diposting oleh cathy khaterina di 18.40 0 komentar

Cobalah bertanya pada teman anda, planet apakah yang memiliki cincin? Mungkin jawaban pertama yang di dapat adalah Saturnus. Tak salah memang namun Saturnus bukan satu-satunya planet yang punya cincin. Ayahnya Saturnus yang berada tak jauh darinya juga memiliki sebuah cincin.
Foto Uranus yang diambil bulan Mei 2007. Kredit :W. M. Keck Observatory (Marcos van Dam)
Loh ayahnya? Siapa? Siapa lagi kalau bukan Uranus. Uranus atau Ouranos dalam bahasa Yunani diartikan sebagai dewa langit dan dipersonifikasikan sebagai anak dan suami dari Gaia, dewi Bumi. Hujan yang ia turunkan memberi kesuburan dan kehidupan makhluk-makhluk di Bumi. Uranus juga merupakan ayah dari Kronos (Saturnus) dan kakek dari Zeus (Jupiter). Uranus, planet ke-7 yang bertahta di Tata Surya juga memiliki cincin tipis dan gelap yang melingkar indah di tubuhnya, sama seperti anak dan cucunya.
Dalam kegelapan malam, Uranus memang terlihat dengan mata bugil seperti halnya kelima planet klasik lainnya. memang dulu  tak pernah terpikir oleh para pengamat langit jaman itu kalau Uranus itu sebuah planet karena cahayanya yang redup dan orbitnya yang lambat.
Uranus sebagai planet dikenal pada saat William Herschel menemukannya di tahun 1791. Namun saat itu, ia belum tahu kalau planet cantik ini memiliki cincin. Yang unik dari Uranus adalah pergerakannya. Kemiringan sumbu rotasi Uranus mencapai 97,7 derajat membuatnya bergerak berbeda dari planet-planet pada umumnya. Akibatnya, selama 84 tahun periode orbitnya satu sisi Uranus akan berada pada sisi terang selama 42 tahun dan kegelapan di sisi lainnya selama 42 tahun. Dengan demikian misteri wajah lain Uranus baru akan terkuak setelah 42 tahun.
Tahun 1789, William Herscel mengklaim bahwa ia melihat ada cincin di Uranus, namun klaim tersebut tak pernah jadi sebuah penemuan karena selama 2 abad berikut tak pernah terlihat keberadaan cincin di planet tersebut. Baru pada bulan Maret 1977, okultasi bintang SAO 158687 mengungkap keberadaan cincin tipis dan buram di Uranus. Pada tahun 1986, saat Voyager 2 melalkukan pertemuan dengan Uranus, ia berhasil mengambil foto-foto cincin tersebut dari jarak yang dekat. Setidaknya manusia belum mampu untuk berada di sana dan mengambil fotonya.
Sebagian besar materi di sistem cincin Uranus barada dalam 9 cincin tipis yang terletak pada jarak 41000 – 52000 km dari pusat planet. Sebagian besar dari cincin Uranus memiliki lebar 1 – 10 km, sementara cincin epsilon yang ada di bagian luar Uranus adalah yang paling lebar dan paling eksentrik. Cincin epsilon tersebut berada pada jarak 20 km – 96 km.
Partikel penyusun cincin Uranus yang terlihat dari Bumi memiliki ukuran yang hampir sama dengan cincin utama Saturnus yakni ~1cm – 10 m. Namun di bagian cincin epsilon, susunannya terdiri dari balok-balok es yang berukuran beberapa kaki. Cincin epsilon juga ditemukan memiliki warna abu-abu, dengan satelit Cordelia dan Ophelia bertindak sebagai satelit penggembala bagi cincin tersebut. Selain itu di sepanjang 9 cincin Uranus, juga terdapat partikel-partikel debu halus yang terdistribusi renggang mengisi cincin tersebut.
Partikel yang menyusun cincin Uranus memiliki warna yang sangat gelap dan tampak segelap asteroid dan meteorit carbonaceous chondrite. Diperkirakan partikel-partikel tersebut terdiri dari es yang teradiasi gelap, yang merupakan campuran dari hidrokarbon kompleks yang melekat pada es saat terbentuk.
Penampakan Uranus dari Bumi pada tahun 2003, 2005 dan 2007. Kredit : NASA
Bulan Desember 2005, pengamatan landas bumi dari Keck Observatory dan pengamatan landas angkasa Hubble Space Telescpe berhasil mengungkap keberadaan cincin terluar di Uranus yang jaraknya 2 kali jarak cincin epsilon. Penemuan tersebut bisa terjadi karena pada saat itu, cincin Uranus tampak dekat dengan Bumi dan pada tahun 2007 lalu cincin tersebut tampak tepiannya dari Bumi. Kondisi ini memberi kesempatan bagi para pengamat di Bumi untuk melihat cincin yang redup. Dua cincin yang ditemukan oleh Hubble tersebut menambah jumlah cincin di Uranus menjadi 13.
Penemuan cincin Uranus yang baru tahun 2005. Kredit : Keck Observatory
Hal menarik lainnya dari cincin terluar Uranus ini adalah warnanya. Dari kedua cincin baru itu, cincin terluar yang berada pada jarak 97700 km dari pusat planet itu berwarna biru sementara cincin yang di bagian dalam yang berada pada jarak 67300 km berwarna merah. Dengan demikian diperkirakan cincin yang terluar itu terdiri dari partikel-parikel yang sangat kecil yang berasal dari partikel debu dan air es yang terlontar keluar dari Mab, satelit Uranus. Mab, selain berbagi partikel untuk menyusun cincin terluar Uranus, ia juga berbagi orbit dengan cincin tersebut.
Di masa depan, saat Uranus kembali bertukar wajah setelah 42 tahun berlalu, atau pada saat kita mampu mengirimkan wahana ke Uranus, bisa dipastikan akan ada lebih banyak misteri yang bisa diungkapkan dari planet tersebut. Atau bahkan dari sisi gelap Tata Surya yang masih belum tertangkap oleh mata teleskop kita saat ini.